Kutai Timur – Di tengah laju pembangunan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), masyarakat Desa Juk Ayaq, Kecamatan Telen, tetap mempertahankan tradisi bertani sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Hingga kini, sekitar 16 hektare lahan sawah masih digarap secara aktif untuk mencukupi kebutuhan beras masyarakat setempat.
Camat Telen, Petrus Ivung, menjelaskan bahwa hasil panen dari lahan tersebut belum diperjualbelikan ke luar wilayah kecamatan. Produksi padi di Juk Ayaq masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga sendiri.
“Luas sawah di Juk Ayaq sekitar 16 hektare. Hasil pertaniannya belum dijual keluar, hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan warga setempat,” ungkap Petrus saat diwawancarai.
Secara geografis, wilayah ini memiliki potensi besar di sektor pertanian karena didukung oleh tingkat kesuburan tanah yang cukup baik. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Salah satu kendala utama datang dari faktor alam, khususnya banjir musiman yang kerap mengancam tanaman padi menjelang masa panen.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah Kecamatan Telen bersama masyarakat setempat mulai menyiapkan penambahan saluran irigasi di sekitar bendungan. Langkah ini bertujuan agar aliran air dapat dikendalikan dengan lebih baik, sehingga risiko kerusakan tanaman akibat banjir dapat diminimalkan.
“Kalau sistem irigasi bisa kita maksimalkan, tentu hasil panen masyarakat juga berpeluang meningkat,” tambah Petrus.
Keberadaan Desa Juk Ayaq sebagai salah satu sentra pertanian kecil di wilayah Telen menunjukkan bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari desa. Upaya masyarakat dalam menjaga lahan pertanian menjadi bukti bahwa sektor pertanian tetap memiliki peran penting di tengah perubahan dan modernisasi.ADV
![]()









