KUTAI TIMUR – Kemajuan teknologi kini dimanfaatkan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Timur (Kutim) untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam melaporkan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan. Melalui aplikasi pelaporan berbasis digital, masyarakat dapat melaporkan kasus kapan saja dan di mana saja.
Kepala DP3A Kutim, Idham Cholid, menyampaikan bahwa inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah laporan kekerasan sehingga kasus dapat ditangani dengan lebih cepat dan efektif. “Dengan memanfaatkan teknologi, kami berharap lebih banyak korban dan saksi yang berani melapor. Ini adalah langkah penting untuk memastikan perlindungan yang lebih baik,” katanya.
Aplikasi pelaporan ini dirancang agar mudah digunakan oleh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil. Fitur-fitur dalam aplikasi memungkinkan pelaporan secara anonim, pelacakan status laporan, serta akses langsung ke layanan pendampingan, seperti konseling dan bantuan hukum.
“Dengan akses digital ini, korban dan saksi tidak lagi perlu khawatir tentang kerahasiaan atau keterbatasan jarak. Kami ingin memastikan bahwa siapa pun yang membutuhkan bantuan dapat segera mendapatkannya,” tambah Idham.
Selain mempercepat penanganan kasus, inovasi ini juga mendukung upaya pencegahan kekerasan melalui edukasi digital. Aplikasi tersebut dilengkapi dengan informasi tentang hak-hak anak dan perempuan, serta panduan bagi masyarakat untuk mengenali tanda-tanda kekerasan.
“Kami percaya bahwa pencegahan adalah kunci. Dengan memberikan informasi yang mudah diakses, masyarakat bisa lebih sadar dan aktif dalam melindungi anak dan perempuan di lingkungan mereka,” jelas Idham.
Untuk memperluas jangkauan aplikasi, DP3A Kutim menggandeng komunitas lokal dan lembaga sosial dalam mempromosikan penggunaan teknologi ini. Melalui kolaborasi ini, diharapkan lebih banyak masyarakat yang memahami cara melapor dan memanfaatkan layanan digital tersebut.
Dengan hadirnya akses pelaporan digital ini, DP3A Kutim optimis dapat menekan angka kekerasan terhadap anak dan perempuan di wilayahnya. “Teknologi adalah alat, tetapi keberhasilan upaya ini bergantung pada keberanian masyarakat untuk bertindak. Mari bersama-sama kita wujudkan Kutim yang aman dan ramah untuk semua,” tutup Idham.









