KUTAI TIMUR – Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, soroti terkait pembangunan infrastruktur serta destinasi wisata yang ada di wilayahnya. Hal ini Ia sampaikan kepada awak media usai menghadiri nonton bareng (Nobar) film Berlayar Bersama Ayah, Sangatta, Sabtu (7/12/2024) malam.
Sebagai sumber devisa yang menempati posisi kedua setelah tanaman sawit, destinasi wisata yang ada di Kutai Timur (Kutim) menjadi prioritas bagi pemerintah daerah. Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengajak seluruh elemen masyarakat termasuk awak media untuk bekerja sama guna meningkatkan kesejahteraan Kutim.
“Devisa tertinggi ada di sawit makanya sawit akan Saya terus dorong dan devisa kedua yang tertinggi adalah pariwisata. Semua ayo dukung Kutai Timur jangan ada yang tertinggal dan media harus betul-betul mempublikasikannya termasuk karya sineas muda kita, The Soul of Magic Land yang menyajikan keindahan alam kita, itu nanti akan muncul lagi”, tuturnya.
Adapula terkait pembangunan infrastruktur bandara, yang selama ini dinanti-nantikan masyarakat Kutim, dirinya menyebut pemerintah akan berkomitmen membangun bandara untuk mempermudah jangkauan wilayah antar daerah.
“Bandara insya Allah 5 tahun ini akan hadir di Sangatta, Saya janji itu karena luar biasa kita punya orang yang begitu banyak ingin datang ke Kutim”, jelasnya.
Selain bandara, dirinya juga menyoroti terkait akses jalan darat yang sudah sebagian diperbaiki. Serta adanya rencana pemerintah daerah Kutim, untuk membangun akses jalur cepat.
“Jalan darat sudah clear kan, jalan nasional sudah sementara. APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) siap untuk melanjutkan tol dari Samarinda ke Bontang, Bontang ke Sangatta itu yang Saya dengar target dari APBN”, jawabnya.
Sementara itu, dirinya juga merasakan manfaat dari perbaikan infrastruktur jalan, yakni jalan nasional di wilayah Kutim yang sudah banyak mengalami perubahan.
“Nah alhamdulillah ya, karena zaman dahulu jalan nasional di Kutim itu sebenarnya menyedihkan di Kaltim, Saya sekarang 3 jam setengah bisa nyampe 4 jam lah, kalau dulu kan 6 jam, 7 jam sekarang sudah enak”, pungkasnya.









